PERTOBATAN

Jika kita seringkali menganggap diri kita menjadi korban, menjadi objek, maka akan sulit memahami pertobatan. Pada hari Selasa, 15 Oktober 2019, saya menghadiri kursus Katekese Liturgi Kontemporer yang membahas tentang isi dokumen Gereja yang kontroversial yaitu Amoris Laetitia di mana sebagian isinya berbicara tentang pertobatan orang yang telah bercerai namun belum atau tidak bisa mendapatkan pembatalan sakramen perkawinan namun juga di saat yang sama ini hidup bersama pasangan yang bukan pasangan sahnya secara hukum Gereja.

Permasalahan hidup perkawinan yang kedua ini memang menjadi rumit bila dalam perkawinan kedua ini juga menghasilkan anak-anak yang jelas membutuhkan tanggung jawab dari orang tua yang telah melahirkannya yang membuat seseorang tidak bisa menaati nasihat Injil, Mat 5:32, yaitu bercerai dengan pasangan keduanya dan kembali ke pasangan sahnya. Tentu perkara ini mengandung dosa berat bila seseorang masih hidup sebagaimana suami istri yang tidak sah secara gerejawi, lalu bagaimana ia bisa bersatu kembali dengan Kristus dalam komuni kudus bila hidup dalam dosa berat seperti itu?

Ternyata Gereja memiliki solusi atas perkara yang demikian itu. Jika perceraian yang kedua tidak dimungkinkan karena berbagai hal yang menghambat perpisahan itu maka untuk bisa kembali kepada kasih Kristus adalah dengan jalan pertobatan. Memang, dosa itu tidak memandang kesulitan seseorang artinya bahwa orang tidak bisa dimaklumi begitu saja bila ia berbuat dosa meskipun ia “harus” berdosa untuk lepas dari kesulitan hidup. Dosa berkaitan erat dengan keadilan namun pertobatan bertalian kuat dengan kerahiman.

Solusinya bagi yang tidak bisa meninggalkan perkawinannya yang tidak sah itu supaya bisa hidup bersama Kristus kembali adalah dengan hidup sebagai saudara dengan pasangan hidupnya. Ia tidak lagi melakukan hubungan khas seperti layaknya suami istri melainkan menjalin hubungan baru selayaknya saudara atau melakukan pertarakan. Sulit? Pasti, apalagi ketika hubungan badan itu sudah menjadi kebutuhan taraf primer, pasti sangat sulit dan menyakitkan pula.

Dalam masa pemulihan inilah, seharusnya Gereja hadir untuk menguatkan pertobatan itu supaya saudara yang sedang menderita itu bisa kembali sehat dan hidup ceria kembali bersama Kristus. Bukan malah melemahkan kembali pertobatan itu, memang akan timbul rasa kasihan tapi rasa kasihan yang membuat seseorang kembali jatuh ke dalam dosa itu bukanlah kasih. Kasih sejati adalah kasih yang menguatkan seseorang yang lemah untuk kembali kuat berjalan di dalam kekudusan hidup bersama Kristus dalam Gereja-Nya.

Memang, rasa-rasanya seperti bahwa aturan ini hanya dibuat oleh “manusia” dan tidak mungkin untuk bisa dilaksanakan. Terlampau mustahil untuk dilakukan bahkan terkesan aturan ini sengaja dibuat oleh orang-orang yang sinis dan tidak punya perasaan untuk menghukum umat yang bersalah. Seringkali aturan seperti itu dianggap sebagai penghalang kasih bagi orang-orang yang merasa dirinya penuh kasih dan sering mempertentangkan aturan-aturan itu dengan kasih Allah. Biasanya yang sering dikatakan adalah Allah itu maha kasih dan mau menerima kita apa adanya karena Allah memaklumi kelakuan anak-anak-Nya. Itu betul, bila kita hanya melihat kerahiman-Nya saja namun bila kita melihat keadilan-Nya juga maka kata-kata itu hampa belaka. Kita harus selalu ingat bahwa Allah itu selain maha kasih, Ia juga maha adil. Dan keadilan selalu hadir dalam hukum dan peraturan yang diadakan demi keteraturan hidup manusia. Aturan boleh saja dilanggar demi kebaikan yang lebih besar, bukan demi enaknya kita sendiri, contohnya Yesus melanggar aturan Sabat demi menyembuhkan orang sakit supaya yang sakit bisa kembali sembuh dan bersukacita, Yesus melanggar aturan itu bukan untuk mencari keuntungan bagi diri-Nya sendiri.

Tuhan, berilah kami rahmat untuk saling menguatkan dalam iman dan kebenaran

Advertisements

MENYALAHKAN

Mungkin paling gampang dan sudah menjadi kebiasaan adalah menyalahkan sesuatu di luar diri kita apabila terjadi hal yang tidak menyenangkan kepada diri kita sendiri. Kita lebih cenderung mudah menjadikan diri kita sebagai korban atau objek daripada mengakui bahwa kita juga bisa menjadi subjek. Kita cenderung suka menyalahkan pihak lain karena kita enggan untuk mengambil tanggung jawab atas hal buruk itu.

Keengganan bertanggungjawab itu saya rasa berasal dari rasa sombong yang bercokol dalam diri kita, yaitu roh kita. Jika diteruskan maka akan semakin menyenangkan bagi setan atau Iblis untuk mengobarkannya menjadi kebencian terhadap orang lain atau pihak lain yang telah menjadikan kita menjadi “objek” mereka.

Jelas hal itu merupakan musuh cinta kasih. Cinta kasih mengambil rupa kerendahan hati. Ia tidak menyalahkan pihak lain melainkan menyadari bahwa dirinya adalah subjek yang memungkinkan terjadinya hal buruk tersebut. Dari kerendahan hati itulah seseorang bisa mengenal dirinya sendiri, kerapuhannya sebagai makhluk ciptaan. Jangan menghakimi, ukuran yang kamu kenakan akan diukurkan juga kepadamu, itulah seruan Injil.

Memang semua perbuatan kita menghasilkan konsekuensi atau efek samping yang mungkin tidak menyenangkan. Misalnya saja, ketika kita memilih untuk bekerja di sebuah toko atau perusahaan atau instansi tertentu, selain kita mendapatkan upah ternyata timbul efek samping yang mungkin tak kita sukai misalnya saja harus taat pada atasan kita, bagi sebagian orang ketaatan ini menjadi sandungan dan beban yang sangat berat. Namun ketika kita memilih untuk bekerja sendiri, wiraswasta, kita harus bekerja ekstra, berpikir ekstra, yang seakan-akan sudah tidak punya waktu lagi untuk beristirahat, untuk sekedar bisa mendapatkan untung yang setara dengan upah karyawan. Semua ada plus-minusnya, tidak ada sesuatu yang 100% cocok dengan apa yang kita inginkan.

Selama kita mengabdi, sudah tentu kita mendapatkan penghidupan kita dari tuan yang memperkerjakan kita. Memang tidak semua karyawan itu beruntung mendapat majikan yang baik hati, ramah, suka berbagi, dan murah hati dalam menggaji. Kebaikan hati seseorang kepada yang satu bisa dirasakan sebagai neraka bagi orang lain. Yang satu mendapat kasih karunia sedangkan yang lain seakan-akan hanya mendapat kutuk saja. Dan biasanya kedua pihak akan saling menyalahkan, yang merasa dizalimi mengatakan bahwa mereka yang dikasihi adalah para penjilat sedangkan mereka yang dikasihi oleh tuannya akan mengatakan kepada mereka yang merasa dizalimi itu adalah kumpulan para pemalas. Mana yang benar? Itu tergantung di posisi mana kita berada, kalau saya lebih suka memosisikan diri di kelompok yang disayangi tuan. Ya, saya katakan, “memosisikan diri” karena saya mau menjadi subjek dan akan terus belajar untuk selalu menjadi subyek.

Sama seperti dalam Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola, aku memiliki pendapat bahwa kotak itu berwarna putih tetapi ketika Gereja mengatakan itu hitam aku harus pula mengatakan itu hitam dengan sepenuh hati. Itulah kesatuan, demikian pula bila kita berada di dalam sebuah perusahaan. Harus bisa sejati dan sejiwa dengan pemilik perusahaan itu, maka akan diperoleh pujian. Dan dengan berbekal banyak pujian itulah kita bisa mengubah kondisi perusahaan seperti apa yang kita inginkan. Jadi, jika ingin mengubah sesuatu, jadilah dahulu orang yang dipercaya. Seorang pemberontak tidak akan bisa mengubah hal buruk menjadi baik, hanya orang bijaksana yang mampu mengubah hal yang buruk menjadi baik. Bukan pekerjaan ringan dan instan untuk mendapatkan kepercayaan, namun itulah sebuah proses.

Tuhan, berilah kami rahmat untuk bisa mengubah kedegilan hati kami supaya kami menjadi bijaksana karena Roh Kudus demi kemuliaan-Mu kini dan sepanjang masa. Amin.

MELAYANI

Melayani, kata keramat untuk mencapai surga. Bagi orang Katolik kata ini sangat agung karena Tuhan sendirilah yang telah memberikan contoh, mengajarkannya, dan memerintahkannya untuk dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya. Indah untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan bahkan hal ini pun harus diajarkan, wow, kok bisa? Karena pada umumnya, manusia, lebih senang dilayani daripada melayani.

Seringkali kita menuntut untuk dilayani dengan baik dan profesional namun seringkali pula lupa bahwa para pelayan pun membutuhkan pelayanan dari yang dilayaninya. Misalnya saja seorang pembantu atau asisten rumah tangga, pekerjaannya adalah membantu tuan rumah untuk membersihkan atau menjaga rumah, itu adalah pekerjaan sekaligus pelayanannya kepada tuan rumah. Sedangkan tuan rumah berkewajiban melayani pembantunya dengan membayar gaji atau upah atau fasilitas secara tepat dan benar sesuai dengan kesepakatan. Tentu tidak mudah memisahkan antara pelayanan dan pekerjaan karena apa yang dikerjakan oleh seseorang merupakan pelayanannya bagi orang lain.

Memang, secara profesional, orang membagi pekerjaan dan pelayanan berdasarkan upah yang akan diterima oleh pelaku, orang yang melakukan pekerjaan atau pelayanan tersebut. Disebut sebagai pekerjaan bila ada kesepakatan upah antara pelaku dan pemberi pekerjaan dan disebut sebagai pelayanan bila tidak ada kesepakatan tersebut. Pelayanan lebih ditekankan pada rasa belas kasih atas pekerjaan atau kewajiban yang diadakan. Pelaku tidak meminta ongkos jasa dan pemberi kerja tidak menawar ongkos kerja tapi pemberian itu semata-mata karena rasa kasih dari kedua belah pihak, yang memberi dan yang diberi pekerjaan.

Namun yang sering terjadi di tengah-tengah umat, ada pekerjaan bagi pengurus umat untuk umat tapi tanpa ada kompensasi, jika diungkapkan maka yang terjadi adalah timbul nyinyiran tentang apa motivasi seseorang jadi pengurus. Jadi pengurus harus melayani umat, tapi umat tidak harus melayani pengurus, begitukah? Injil mengatakan, setiap pekerja layak dapat upah. Lalu ada yang mengatakan, besar upahmu di surga, eh, serius? Atau hanya mau lari dari tanggung jawab? Ah, kurasa-rasakan kok lebih condong ke arah jawaban kedua, lari dari tanggung jawab untuk melayani, terutama melayani kebutuhan para pengurus lingkungan atau paroki. Kalau untuk romo memang sudah diatur dalam peraturan Kitab Hukum Kanonik, bahwa setiap imam boleh menerima stipendium (stips – derma) maupun iura stolae (sumbangan) sebagai upah jasa mereka dan itu pun sudah dianggap sebagai kewajiban oleh umat beriman. Tetapi untuk pelayan luar biasa seperti prodiakon, ketua wilayah, ketua lingkungan, pengurus dewan paroki, dan jajarannya, dan lain-lainnya itu belum atau mungkin juga tidak akan pernah diatur dalam hukum tertentu dalam salah satu hukum resmi Gereja. Bahkan seolah-olah jabatan-jabatan itu hanya bagi mereka yang mau tombok alias merugi demi surga.

Pelayan, jika tidak ada yang mau jadi pelayan, banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan juga kan? Siapa yang mau tombok terus menerus? Mereka yang aktif dan seolah-olah tidak dibebani oleh uang ternyata memiliki rahasia di mana secara ekonomi mereka sudah mantab, namun jarang sekali hal itu diungkapkan, yang mereka ungkapkan adalah melayani Tuhan itu harus total, ah, benarkah itu pak/bu, mas/mbak? Coba saja diterapkan pada seseorang yang tidak memiliki penghasilan yang stabil dan mantab, yang terjadi kemudian adalah keengganan untuk melayani. Menurutku itu wajar karena selama kita masih hidup di atas tanah ini kita tetap membutuhkan sarana dan prasarana hidup yang wajar sebagai manusia biasa.

Oleh karena itu, saling tolong menolonglah kamu, saling mengasih-(i) satu dengan yang lain. Jangan hanya senang mengambil dari orang lain melainkan berbagilah dengan orang lain apa yang kau miliki, juallah yang ada padamu dan berikanlah kepada orang miskin. Ingat, orang yang melayani adalah orang yang telah menjual segala miliknya untuk menjadi pelayan bagi orang kaya karena hanya orang miskinlah yang mau menjadi pelayan dan surga telah dijanjikan hanya kepada mereka yang miskin.

Tuhan berikanlah kemampuan bagi kami untuk berbagi dan hindarkanlah kami dari ketamakan. Hati yang ingin berbagi bukan hati yang selalu mengingini.

PURA-PURA

Banyak dari kita lebih suka berpura-pura daripada jujur menyatakan apa yang ada dalam hatinya. Menjadi diri sendiri sepertinya memalukan, hampir semua orang suka dengan kebohongan yang memberi tempat pada kehormatan diri. Padahal dengan menjadi diri sendiri, nilai kita sebagai manusia itu dihormati dan dijunjung tinggi.

Pelayanan kepada Tuhan dan sesama memang membutuhkan kebesaran hati, ada yang kemudian disebut pengorbanan bila apa yang dilakukan itu tidak menyenangkan. Bagiku, apa pun yang menyenangkan untuk dilakukan itu kunamakan hobi, sedangkan apa yang tidak menyenangkan namun harus kulakukan adalah pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan dengan sepenuh hati adalah pengorbanan yang sempurna, dan bagiku, aku lebih senang bila ada orang lain yang melakukan pengorbanan yang sama denganku berjuang bersamaku daripada aku harus bekerja sama dengan orang yang sedang melakukan hal yang sama yang adalah hobinya.

Siapa sih yang tidak tahu persembahan seorang janda di bait Allah di mana Tuhan mengatakan bahwa persembahan janda itu adalah persembahan yang terbesar daripada persembahan orang lain karena yang ia persembahkan adalah kekurangannya. Dalam hal persembahan ini, aku suka kisah Injil ini karena sangat aku banget. Demikian pula kisah Tuhan di Taman Getsemani, bagaimana Tuhan bergulat dengan keinginan-Nya dan kehendak Bapa-Nya, kelemahan-Nya sebagai manusia membuat-Nya bermandikan keringat darah.

Aku bukan malaikat yang tidak memiliki keengganan, mungkinkah ada malaikat yang memiliki rasa enggan? Ada waktu-waktu di mana ketika aku sedang asyik-asyiknya bersama diriku sendiri harus melepaskan kenyamanan itu, istilah kerennya meninggalkan zona nyaman, untuk pergi melakukan hal yang sebenarnya tak mau kulakukan.

Tapi itulah pengorbanan bagiku, mempersembahkan kenyamananku bagi orang yang membutuhkan kenyamananku seperti Tuhan mempersembahkan takhta-Nya di surga untuk keselamatan manusia. Bukankah cinta memang menuntut adanya pengorbanan itu? Kalau semua berjalan menyenangkan, apa yang menjadikan seorang manusia istimewa? Yang menjadikannya ia istimewa adalah kurbannya, yang sanggup menjual seluruh harta bendanya, meninggalkan kenyamanannya, demi hidup dan menghibur orang yang sedang berkesusahan.

Bagiku, lebih baik tidak ikhlas namun tetap memberi sesuatu kepada orang yang membutuhkan daripada menunggu ikhlas tanpa melakukan baik apapun. Bukankah dalam kitab suci pun dikatakan bahwa apa yang kamu berikan kepada salah seorang hamba Allah yang paling menderita ini, dirimu akan menerima kembali berlipat-lipat? Itu berarti Allah mengetahui bahwa nilai keikhlasan itu begitu besar dan berat bagi manusia sehingga Ia harus memberikan jaminan sebagai ganti keikhlasan itu.

Tuhan berilah kami kebesaran hati untuk bisa berbagi kepada sesama yang membutuhkan kami sehingga nama-Mu dimuliakan.

MASUK SORGA

Ini yang kudapatkan dari ajaran Gereja Katolik yang satu, kudus, dan apostolik adalah jika ingin masuk ke Surga, Kerajaan Allah, kerajaan suka cita, itu tak bisa sendirian. Orang yang ingin mendapatkan surga harus bisa mengajak orang lain pula untuk masuk ke surga bersamanya. Semakin banyak yang ia ajak semakin tinggi pula kedudukannya kelak di surga.

Orang tidak mungkin mencapai kesucian seorang diri, ia harus memberikan dirinya kepada orang lain supaya ia menjadi suci. Semua kebaikan yang dilakukan oleh anak manusia demi sesamanya akan membawanya ke surga.

Mungkin ada orang yang melakukan tapa silih yang berat dan melakukan askese atau penyiksaan diri yang sangat menyakitkan untuk meraih kesucian namun bila hal itu dilakukan bukan untuk keselamatan orang lain melainkan hanya untuk dirinya sendiri, sia-sialah usahanya itu, ia tidak akan bisa masuk ke surga.

Kesucian itu bukan untuk diri sendiri melainkan untuk berbagi kepada sesama. Memiliki banyak uang hanya akan menjadi penyakit bila tidak dimanfaatkan untuk membantu sesamanya yang berkekurangan, sia-sialah kekayaannya itu sebab surga tidak bisa dibeli dengan uang melainkan hanya bisa dibayar dengan persaudaraan.

Kunci pintu surga hanya cinta kasih, tidak ada hal lain yang sanggup membuka kunci itu kecuali cinta kasih. Cinta kasih tentu saja tidak bisa bagi diri sendiri melainkan harus dibagikan kepada orang lain. Cinta bagi diri sendiri bukanlah cinta melainkan egoisme, cinta itu memberi atau melayani atau mengasihi sesama. Dalam cinta ada pengorbanan, ada kurban yang bisa menyelamatkan orang lain.

Oleh karena itu aku bersyukur karena Tuhan sendiri mau berbagi denganku, kesucian-Nya telah Ia bagikan kepadaku, kemegahan-Nya pun Ia berikan kepadaku. Bagiku, tiada Allah yang bisa menyelamatkan aku kecuali Ia yang mau berbagi cinta kepadaku.

AGAMA ADALAH JALAN (?)

Bila kita menganggap agama itu adalah jalan menuju kebenaran, kebebasan, kepenuhan, kebahagiaan, jalan menuju Allah, sumber dan tujuan hidup manusia, yang memiliki ciri khas sendiri-sendiri seperti beberapa jalan yang bisa mengantar para peziarah tiba di satu kota yang sama di mana di setiap jalan itu memiliki rambu-rambu yang berbeda-beda, meskipun tujuan akhirnya adalah kota yang sama, lalu mengapa kita “tidak boleh” pindah agama?

Semoga boleh kuandaikan Allah itu adalah kota tujuan yaitu Jakarta dan agama-agama adalah jalur utara dan selatan Jawa jika kota asalku adalah Jogja. Jika kita pernah melakukan perjalanan dari kota Jogja ke Jakarta melewati kedua jalur utama itu, utara dan selatan Jawa, pasti bisa merasakan bahwa di kedua jalur itu, meskipun memiliki kesamaan yaitu tujuan, aspal, jalan berbeton, rambu-rambu lalu lintas tapi semua itu tidak sama persis atau memiliki perbedaan dalam hal kuantitas atau posisi rambu-rambunya atau pemandangannya, pokoknya tidaklah sama meskipun kedua jalan raya itu bisa mengantar kita ke Jakarta dari Jogja. Keduanya sama-sama baik dan benar pula, semua jalan baik yang ada di utara maupun yang ada di selatan menuju ke Jakarta. Lalu apa yang membuat kita “salah” bila kita berpindah jalan?

Saya yakin, semua agama pasti memiliki sarana penyucian jadi meskipun kita menjadi najis atau berdosa ketika kita keluar dari satu agama pasti akan kembali disucikan kembali oleh agama yang baru, ya semuanya pasti menurut aturan dan ukuran yang dipakai oleh masing-masing agama, pasti juga berbeda-beda.

Jika kita menilik keberadaan agama, agama pasti tidak lepas dari pewahyuan ilahi. Seseorang atau sekelompok orang menerima pewahyuan yang menyatakan kebenaran bagi manusia yang kemudian diwartakan oleh orang-orang yang percaya pada pewahyuan itu maka jadilah agama. Tapi memang yang mengherankan adalah timbulnya perbedaan yang mengakibatkan orang saling menyalahkan agama lain yang tidak diyakininya. Apa yang terjadi di sini? Orang mau dan bangga bisa membinasakan orang lain yang menganut agama atau keyakinan yang berbeda atas nama allah dari salah satu agama yang sama maupun agama lain. Mengapa ini bisa terjadi di samping para kelompok antar umat beragama yang menyatakan bahwa semua agama bersama-sama memuliakan Allah yang sama?

Mana yang benar? Apakah semua agama itu sama-sama benar meskipun berbeda jalan? Ataukah hanya ada satu agama yang benar di antara sebegitu banyaknya agama yang ada?
Hidup manusia tidak bisa lepas dari urusan politik, mungkin ini adalah jawaban yang paling enak untuk dinyatakan. Jika ingin bisa bekerja sama dan hidup dengan rukun, nyatakanlah bahwa semua agama itu baik dan sama-sama benar meskipun berbeda jalan itu adalah pilihan terbaik. Tapi jika ingin mempertahankan kebenaran atas apa yang telah kita terima secara pribadi ataupun kelompok maka nyatakanlah bahwa mereka yang berbeda dengan kita atau kelompok kita adalah kaum kafir. Dan kedua jawaban itu selalu ada pada kita dan hidup dalam diri kita sehari-hari. Apakah ini hidup plin-plan? Bagiku itu adalah kebijaksanaan Ilahi.

Tuhan, berikanlah kami kebijaksanaan agar kami semakin menyenangkan hati-Mu.

GERAK BATIN

Santo Ignatius dari Loyola merasa hatinya berkobar-kobar setelah membaca kisah perjuangan santo-santa dalam Gereja Katolik, rasa yang dia rasakan bisa bertahan lebih lama bahkan setelah dia tidak membacanya lagi pun rasa itu masih kuat membara dalam dada daripada rasa yang sama yang dia rasakan ketika dia membaca kisah kepahlawanan nasional atau kisah romantis percintaan sepasang kekasih yang mudah lenyap ketika dia selesai membaca buku-buku tersebut. Dia mulai meneliti mengapa hal itu terjadi maka dia pun menemukan bahwa ada tiga macam roh yang ada di dalam dirinya yaitu roh manusia, roh jahat, dan roh baik.

Rasa cinta yang berkobar-kobar sangat lama dalam dadanya setelah dia membaca kisah santo-santa dan bacaan rohani dia kelompokkan dalam dorongan roh baik, sedangkan rasa yang lebih rendah tingkatannya dan lebih pendek durasinya dia kelompokkan dalam dorongan roh jahat.
Tapi kurasa itu adalah anugerah dari Tuhan sebab tidak semua orang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Santo Ignatius tersebut. Mungkin lebih banyak yang merasakan sebaliknya, berkobar-kobar ketika membaca bacaan romantis namun tak bersemangat membaca kisah santo-santa. Bahkan lebih lagi bahwa imajinasi pembaca kisah romantis terbawa hingga berhari-hari bahkan ketika dia sudah tidak lagi membacanya namun kisah santo-santa hanya ingat sebatas dia mengerjakan soal-soal ulangan atau ujian agama saja.

Jika dalam kondisi seperti itu apakah boleh dikatakan bahwa roh jahat berkuasa dan mengalahkan roh baik dan roh manusia dalam dirinya? Atau itu hanyalah gerak batin yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia sesuai dengan panggilannya? Apakah seperti yang dialami oleh Santo Ignatius adalah gerak batin panggilan sebagai imam atau biarawan dan apa yang dialami oleh orang lain yang sampai mabuk kepayang oleh kisah romantis adalah panggilan untuk hidup berkeluarga? Bisa jadi benar namun juga bisa jadi tidak benar.

Jadi memang benar bila ingin mengetahui gerak batin itu benar atau salah mesti diuji terlebih dahulu. Yang tersulit adalah mengenali gerak batin yang dikendalikan oleh roh jahat karena setan bisa tampak seperti malaikat. Setan, seperti apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus adalah bapa segala dusta, bisa dengan liciknya memberikan kegembiraan atau kebahagiaan yang tampaknya indah namun berakhir dalam kebinasaan. Terlihat bijaksana dan baik hati namun berakhir dalam penyesalan. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka, mereka yang berada di balik layar kehidupan kita, mereka yang memengaruhi gerak batin manusia.

Tentu saja untuk bisa mengenali buah yang dihasilkan itu baik atau buruk memang membutuhkan waktu, ada proses pengajaran dan pengamatan yang mendalam. Untuk bisa menyelami hati tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang menjadi tujuan dan motivasi yang sesungguhnya dari perbuatan baik yang dilakukan belum tentu langsung bisa kita lihat hasilnya.

Keterbatasan manusiawi yang sulit mengenal apa yang tidak bisa kita indera dan kita pikirkan mungkin menjadi salah satu penyebab seakan-akan gerak batin kita dilumpuhkan oleh roh jahat. Mungkin pula kita harus mengakui bahwa kita lebih dekat dengan roh jahat daripada dengan roh baik, roh kita lebih mudah terpikat oleh bujuk rayu roh jahat daripada mendengarkan nasihat roh baik. Bukankah kita memang lebih senang mendengar rayuan daripada nasihat? Rayuan membuat seakan-akan kita itu sangat berharga, sedangkan jika mendengarkan nasihat membuat kita seolah-olah tidak berdaya dan terasa bodoh. Sekedar contoh saja, merokok akan membuat seorang lelaki tampak jantan tapi apakah bila dia tidak merokok lalu menjadi betina? Tentu saja tidak bila dia memang berjenis kelamin laki-laki. Sikap memberontak terhadap aturan atau norma masyarakat seringkali digunakan untuk menunjukkan eksistensi diri yang membuat dirinya tampak berharga karena tampak berbeda. Menjadi kaya raya dengan gaya hidup mewah, bersenang-senang, tanpa ada kesusahan dan kesedihan dalam mencari penghasilan menjadi impian yang sering ditawarkan oleh media massa. Apakah semua itu karya roh baik? Sangat sulit untuk mengatakan benar karena secara sederhana saja semua orang bisa sepakat bahwa itu adalah buah karya roh jahat.

Tapi sulitnya bukan main untuk menghindar dari rayuan maut Iblis itu. Satu bahkan ribuan alasan bisa disetorkan untuk menjaga gengsi dan meneruskan karya jahat itu dalam hidup sehari-hari.

Pertobatan adalah jalan untuk kembali menemukan nasihat roh baik. Membutuhkan kerendahan hati untuk mampu mendengarkan nasihat. Merendahkan hati saja sulitnya bukan main apalagi bagi mereka yang sudah terbiasa hidup berfokus pada dirinya sendiri, mereka yang merasa selalu benar atau yang selalu mencari benarnya sendiri. Ya itulah, roh baik selalu hadir dalam bentuk nasihat yang sering kali membuat kita merasa rendah dan bodoh di hadapan orang lain. Seperti hidup menjadi pelayan? Raja yang melayani? Saya rasa itu bukan cita-cita pada umumnya tapi itu adalah karya roh baik, Roh Kudus. Buahnya pasti indah? Belum tentu, karya roh baik belum tentu bisa berbuah dengan indah selama kita masih hidup di dunia ini. Hal itu pula yang juga membuatku, kita, kadang malas mendengar nasihat roh baik dan lebih memilih rayuan roh jahat. Oleh karena itu sering kan kita lihat bahwa orang menjadi malu bila pekerjaannya menjadi pelayan namun akan dibanggakan ketika ia berkarier menjadi bos yang dilayani? Bukan hanya tentang masalah penghasilan di mana yang melayani menerima upah lebih rendah daripada mereka yang dilayani tapi juga menjadi pelayanan itu tidaklah menyenangkan. Tidak menyenangkan bagi diri sendiri tetapi menyenangkan orang lain yang kita layani. Kebahagiaan pelayan sangat bergantung pada kebahagiaan tuannya yang dia layani, tapi bukankah itu pekerjaan malaikat yang menggantungkan kebahagiaannya pada kebahagiaan Allah yang dilayaninya? Setan selalu mencari kebahagiaannya sendiri, kebahagiaan penciptanya tidak dia perdulikan, dia tidak mau menjadi pelayan namun selalu menuntut untuk dilayani dengan baik.

Saya rasa pembedaan roh juga berkutat di sekitar hal itu, apakah kita mau melayani dan menggantungkan kebahagiaan kita pada kebahagiaan yang kita layani atau mau mencari menang sendiri dan selalu menuntut untuk dilayani dengan baik demi kebahagiaan pribadi. Semoga kita bisa mengenali dengan baik mana roh yang akan membantu kita menuju hidup kekal nan bahagia dalam pertolongan rahmat Tuhan.