Api PENYUCIAN atau PENCUCIAN?

Yang betul adalah Api Penyucian.

Meskipun bisa sama makna yaitu menjadikan sesuatu menjadi bersih, kata suci cenderung digunakan untuk hal-hal rohani sedangkan cuci untuk hal-hal jasmani.

Api penyucian dimaksudkan untuk menyucikan jiwa supaya pantas dan layak masuk ke Sorga. Jiwa bisa disucikan dengan cara-cara rohani seperti doa, derma, puasa, dan ibadat.

Suci itu tidak hanya bermakna bersih, bebas dari noda, melainkan bisa bermakna lebih luas antara lain bisa bermakna atau berpadan kata dengan: tidak bersalah, tidak dihantui penyesalan, utuh, kembali seperti semula, apa adanya, tidak melanggar hukum dan aturan, perawan, tidak merusak, belum atau tidak terjamah, tidak dirusak, tidak jail, tidak jahat, kudus, dan lain-lain.

Api penyucian sendiri, dalam pengertian ajaran Gereja Katolik, lebih erat hubungannya dengan penebusan. Jiwa-jiwa di api penyucian melakukan penebusan atas semua kesalahan yang ia lakukan selama ia masih hidup bersama raganya di bumi.

Dalam ajaran Gereja yang kudus, ada perbedaan antara telah dimaafkan dan kewajiban penebusan. Sudah dimaafkan itu bukan berarti ia telah bebas dari kewajiban menukar apa yang telah ia rusakkan. Umat beriman akan memohon maaf dan menerima maaf itu dalam Sakramen Tobat. Sedangkan indulgensi digunakan untuk menghapus kewajiban menukar apa yang telah rusak tersebut. Dengan menerima indulgensi, maka jiwa tidak perlu lagi melakukan penyucian dalam purgatorium atau api penyucian.

Syarat untuk menerima indulgensi jelas tidak bisa lepas dari Sakramen Tobat dan Sakramen Minyak Suci atau Pengurapan Orang Sakit. Indulgensi hanya bisa diberikan kepada jiwa yang telah dimaafkan atau diampuni dosanya.

ANAK ALLAH

Yesus Kristus adalah Allah? Ah, yang betul?

Dalam kitab suci, Alkitab bagian Injil, terutama dalam Injil Matius dan Lukas dijelaskan bagaimana Yesus Kristus itu bisa ada alias bisa eksis di dunia ini. Dalam dua Injil tersebut, Yesus Kristus ada bukan karena sperma lelaki melainkan dari kuasa Allah, hal itu dinyatakan dengan jelas oleh malaikat kepada Santa Perawan Maria (Luk 1:34-35). Bahkan malaikat itu pula yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang maha tinggi. Ya jelas saja Yesus Kristus itu disebut sebagai Anak Allah oleh malaikat itu sebab Allah yang bertanggungjawab atas kehamilan Santa Perawan Maria tersebut.

Berarti Yesus Kristus itu bukan Allah dong? Kan Allah itu Bapak-Nya?

Nah, mulai dari sini, kita akan menganalogikan Allah sebagai salah satu jenis makhluk atau spesies, seperti manusia, kambing, sapi, atau singa. Dengan begitu kita akan lebih mudah memahami siapa Yesus Kristus itu. Kita mulai dari kambing, anak kambing adalah kambing juga. Kemudian singa, anak singa adalah singa, bukan macan. Lalu manusia, anak manusia adalah manusia juga, bukan monyet ya, tapi manusia. Nah, demikian pula bagi Allah, Anak Allah adalah Allah (Yoh 5:18 ; 10:33).

Jadi, Yesus Kristus adalah Allah namun Ia berbeda dengan Bapa-Nya sama seperti seorang manusia yang berbeda dengan ayahnya. Yesus Kristus adalah Allah Putra, sedangkan bapak-Nya adalah Allah Bapa. Mereka, Yesus Kristus dan Bapa-Nya, adalah satu hakikat, dalam hal ini Gereja menyatakan mereka sebagai satu hakikat bukan sebagai satu spesies untuk membedakan eksistensi Mereka dari makhluk ciptaan.

Frekuensi

Banyak motivator mengatakan bahwa keteladanan itu lebih tinggi nilainya daripada sekedar kata-kata teori. Bahkan metode gift and punishment pun tidak lebih baik daripada keteladanan.

Ketika kita membaca kisah para nabi hingga orang-orang suci ternyata memang tidak banyak orang yang menjadi murid atau pengikutnya. Keteladanan yang benar dan baik dari para nabi dan para suci ini ternyata tidak bisa merubah kelakuan, sifat, watak, dan pemikiran yang keblinger dari banyak orang yang hidup di masanya. Malah sebaliknya, para raja dan penguasa lebih sukses mengendalikan banyak orang dengan sistem hadiah dan hukuman.

Keteladanan ini membutuhkan keadaan dan situasi tertentu di mana, kata Profesor Yohanes, profesor yang ada di link ini: https://youtu.be/nUMzP0gbbgs, bisa menyamakan frekuensi orang-orang yang akan diarahkan. Mirip-mirip dengan garputala di mana garputala dengan frekuensi yang sama akan ikut bergetar dan berdenging ketika ada garputala lain yang sama frekuensinya yang sedang bergetar didekatkan padanya.

Tentu tidak mudah menemukan orang yang secara alami sefrekuensi dengan para nabi dan para suci itu. Dan mungkin jumlahnya pun sedikit. Sejak semula diciptakan, manusia dianugerahi frekuensi yang luas, yang bisa menjadi berbeda dengan frekuensi Allah, yang adalah penciptanya. Kalau kita baca dalam Kitab Kejadian ketika manusia jatuh ke dalam dosa, frekuensi manusia tidak tetap terpasang pada frekuensi Allah, ketika mereka didekati oleh Iblis, Si Ular, frekuensi mereka berubah, dari yang semula ada di frekuensi Allah menjadi berada di frekuensi Iblis.

Dengan kemudahan perpindahan frekuensi ini, manusia jadi sering juga berpindah-pindah dari hidup suci murni ke hidup jahat dan bejat, dan kembali lagi ke hidup suci nan murni. Oleh karena frekuensi manusia itu juga diatur oleh frekuensi di luar dirinya, seperti yang dikatakan oleh Profesor Yohanes, maka perlu bagi manusia untuk berada di lingkungan yang kondusif bagi frekuensi yang ingin dipakainya dalam hidup.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang bisa hidup dengan baik dan benar meskipun ia berada dalam lingkungan hidup yang buruk dalam waktu yang lama tanpa terpengaruh oleh frekuensi yang buruk itu?

Mungkin ini yang belum dijelaskan oleh Profesor Yohanes, karena memang belum tentu seseorang menjadi perokok karena ia banyak bergaul dengan para perokok. Tapi memang benar, kalau mantan perokok untuk sementara jangan bergaul dengan para perokok bila mantan perokok itu ingin berhenti dari kecanduannya untuk merokok. Frekuensinya terlalu sulit untuk ditolak bila ia tetap berada dalam jangkauan frekuensi tersebut, semakin dekat akan semakin kuat pula pengaruhnya.

Namun, bagi orang yang tidak ngefek meskipun lingkungan terdekatnya bergetar, namun ia tidak ikut bergetar, itu menandakan bahwa orang tersebut berbeda frekuensinya dengan orang-orang yang membentuk lingkungan itu. Kok ya ada orang-orang yang berbeda itu?

Di alam ini, tentu ada yang dinamakan anomali, atau keanehan atau keganjilan, yang membuat sesuatu itu seperti seolah-olah melawan hukum alam. Yang paling terkenal adalah anomali air, di mana air pada suhu 4 derajat Celcius memiliki kepadatan maksimum bahkan dikatakan oleh para ahli bahwa kepadatan air pada suhu 4 derajat Celcius itu lebih padat daripada ketika air itu membeku pada suhu 0 derajat Celcius atau lebih dingin lagi (https://kumparan.com/encylovepedia-sains/air-anomali-dan-misteri-yang-terpecahkan).

Demikianlah yang terjadi pada para nabi dan para suci, mereka berada di dalam frekuensi yang berbeda dengan frekuensi lingkungannya. Mereka tidak ikut mengambil bagian dalam kejahatan dan dosa sebab frekuensi jahat dan dosa itu tidak nyambung dengan frekuensi mereka ini.

Dan dengan cara inilah, TUHAN, Allah, menyelamatkan manusia dari kematian karena dosa. Ia hadir dalam Firman-Nya yang hidup bersama manusia biasa. Orang-orang yang disiapkan untuk keselamatan itu pun diciptakan dengan rentang frekuensi yang lebih sensitif pada frekuensi Allah. Meskipun mereka ini masih bisa memilih untuk nyetem pada frekuensi yang kemresek yang mungkin lebih menyenangkan siarannya. Ibarat seperti sebuah radio, ada pula radio yang sempit frekuensinya yang hanya bisa menerima siaran radio tertentu saja, seperti radio HT atau handy talky. Namun ada pula radio dengan frekuensi yang luas sehingga pendengar bisa memiliki lebih banyak pilihan siaran untuk didengarkan seperti radio FM.

Contoh seorang manusia yang memiliki frekuensi terbatas, seperti radio handy talky, adalah Santa Perawan Maria. Bunda Maria diciptakan istimewa untuk mempersiapkan kelahiran Sang Firman yang maha kudus. Bunda Maria tidak bisa menerima frekuensi Iblis dan para setan sehingga beliau ini tidak bisa jatuh dalam cobaan Iblis dan setan.

Adakah orang yang berlawanan dengan Bunda Maria? Tentu ada, yaitu Yudas Iskariot, meskipun ia selalu berada dalam jangkauan frekuensi Allah, karena ia adalah rasul dan murid utamanya Tuhan Yesus tentu saja ia mendapat frekuensi yang berlimpah dari Sang Firman, Sang Sumber Frekuensi Allah. Namun karena Yudas Iskariot ini adalah sejenis radio frekuensi terbatas, seperti Bunda Maria namun frekuensinya ini berada dalam frekuensi Iblis dan setan, sehingga ia tidak bisa pindah ke frekuensi Allah. Dan akhirnya ia mengkhianati Firman Allah sampai kesudahannya.

Mungkin bagi sebagian orang akan menganggap Allah sebagai pencipta Bunda Maria dan Yudas Iskariot itu tidak adil. Mengapa bisa seperti itu? Allah tidak adil? Itu karena kita menghilangkan hak Allah sebagai pencipta dan pemilik segala ciptaan-Nya. Keegoisan kita yang sefrekuensi dengan Iblis yang memaksa diri kita sendiri hanya mau untuk melihat, mendengar, dan merasakan apa yang mau kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan. Hak Allah ingin kita ganti dengan keinginan manusia yang masih sefrekuensi dengan Sang Pemberontak, si penguasa neraka.

Sebagai manusia biasa nan normal, kita diberi anugerah untuk memilih frekuensi yang kiranya cocok dengan apa yang kita inginkan. Yuk, kita mulai pilih frekuensi yang benar dan berusaha untuk stay tune terus di situ sampai akhir siaran.

Mengapa Allah Menjadi Manusia ?

Pertama, karena Allah mampu dan mau menjadi manusia tanpa kehilangan keallahan-Nya.

Yang kedua, karena Allah membutuhkan kehadiran manusia karena kasih-Nya dan Allah pun mengerti bahwa manusia membutuhkan kehadiran-Nya untuk bisa kembali kepada-Nya. Kehadiran Allah dalam hidup manusia di dunia ini pada mulanya berupa Lisan, lalu berkembang menjadi Tulisan, dan yang terakhir ikut menjadi Manusia sama seperti manusia keturunan Adam yang menjadi subyek bagi Lisan dan Tulisan itu. Manusia Allah itupun ikut menjadi pelaku atas apa yang telah Ia Lisankan dan Tuliskan.

Apa yang Allah Lisankan dan Tuliskan itu kita kenal dengan sebutan Firman. Firman Allah ini sejak awal mula penciptaan telah ada, bahkan semua ciptaan diciptakan dengan perantaraan Firman itu. Hanya dengan Firman-lah, Allah itu bekerja dari awal hingga akhir nanti.

Seperlu apa Allah mesti ikut menjalani apa yang seharusnya tidak wajib Ia kerjakan? Bagi Allah tidak ada yang wajib sebab semua yang ada adalah milik-Nya. Ia berhak melakukan apa saja yang Ia kehendaki pada milik-Nya itu.

Ketika Allah oleh Firman-Nya menjadi manusia, menjadi setara dengan manusia, Ia sama sekali tidak bisa kehilangan kehormatan dan kesucian-Nya sebagai Allah karena Ia adalah sumber kehormatan dan kesucian itu sendiri.

Dalam bentuk Lisan dan Tulisan (Kitab Suci), Allah belum bisa membawa manusia ke hadirat-Nya karena semua itu belumlah sempurna bagi-Nya jika apa yang Ia Katakan dan Ia Tuliskan itu belum juga Ia Laksanakan.

Karena Firman, Lisan dan Tulisan, itu untuk manusia maka Ia pun membuat diri-Nya sempurna sebagaimana Ia sempurna adanya dengan menjadi pelaku Firman yaitu menjadi Manusia (Mat 5:17).

Dengan menjadi Manusia, maka sempurna pulalah manusia. Mereka, manusia, mendapatkan kesempurnaan Allah sebab Allah telah menjadi Manusia. Kesempurnaan itulah yang bisa membawa manusia kembali ke Sorga untuk hidup kekal bersama Allah yang Maha Sempurna dalam kasih sejati.

Jika disamakan dengan sebuah profesi, guru mungkin adalah profesi yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Allah. Gurulah yang mengajar, guru pulalah yang memberikan ujian kepada murid-muridnya atas apa yang telah diajarkannya itu, dan pada akhirnya guru itu juga yang menilai murid-muridnya. Dengan cara itu juga ia pun mengajar, menguji, dan menilai dirinya sendiri untuk menyempurnakan diri sebagai seorang guru.

Allah Manusia kan cuma ada satu, yaitu Yesus Kristus saja? Kok bisa semua manusia disempurnakan? Tidak semua manusia disempurnakan, hanya mereka yang mau disempurnakan saja yang akan menerima kesempurnaan itu. Salah satu tanda besar bahwa seorang manusia akan disempurnakan oleh Allah adalah mau menerima Yesus Kristus. Sebab hanya dengan mengenakan Tubuh dan Darah-Nya saja, manusia itu dipersatukan oleh-Nya dalam kesempurnaan. Tanda terbesarnya adalah pewartaan kesempurnaan itu sendiri sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus.

Jadi, memang ada yang tidak bisa memperoleh keselamatan, yaitu mereka yang tidak mendambakan Allah. Mereka yang dengan sadar dan sengaja memilih untuk meninggalkan Allah yaitu mereka yang memilih tetap setia kepada Iblis. Ya, manusia bisa memilih sebab mereka dianugerahi kehendak bebas oleh Allah sejak diciptakan, untuk menilai dan memilih bagi dirinya sendiri apa yang dianggap terbaik baginya.

TUHAN YESUS MATI ?

Kata orang Kristen, Yesus Kristus itu Tuhan, Allah, kok mati disalib?

Pada saat kematiannya, jiwa manusia berpisah dari badannya ( lihat Katekismus Gereja Katolik no. 997). Dalam kondisi yang sama dengan manusia, Yesus Kristus mati disalibkan.

Apa yang kita lihat dalam kisah penguburan jenazah Yesus orang Nazaret yang wafat disalibkan itu (Injil Matius 27:59-60) tak lain adalah penguburan badan Yesus yang telah ditinggalkan oleh Roh-Nya.

Dalam sebuah homili tua (KGK 635), Jiwa Kristus yang berpisah dari badan-Nya masuk ke tempat Adam dan Hawa serta jiwa-jiwa manusia beriman ditahan, yaitu ke dalam alam maut. Mereka ada di tahanan itu karena efek dosa Adam. Jiwa Kristus ke sana untuk membebaskan Adam dan jiwa-jiwa yang percaya pada belas kasih Allah itu dan membawa mereka ke Sorga.

Roh atau Jiwa Yesus Kristus berbeda dengan jiwa manusia biasa. Jiwa Kristus adalah Roh Allah. Sedangkan roh manusia biasa adalah reproduksi dari roh manusia pertama, Adam. Oleh karenanya manusia biasa itu disebut sebagai anak-anak Adam. Tapi meskipun reproduksi dari Adam, roh yang dimiliki oleh manusia biasa ini tetaplah roh yang baru, bukan hasil dari reinkarnasi.

Bukankah roh Adam pun berasal dari Allah? Benar, roh Adam berasal dari Allah ketika Allah menciptakan manusia untuk pertama kalinya. Tetapi kemudian Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa yang mengakibatkan kematian kekal. Kematian kekal itu digambarkan dengan diusirnya leluhur manusia itu keluar Taman Eden untuk selamanya.

Namun karena belas kasih Allah yang begitu besar kepada Adam dan keturunannya, maka Allah berinisiatif menyelamatkan manusia dari maut. Inisiatif itu pun Ia wujudkan dari masa ke masa sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Silih berganti para nabi mewartakan karya keselamatan Allah, namun semua itu belum bisa memuaskan Hati Allah untuk membawa manusia kembali kepada Allah. Hingga pada akhirnya Allah sendiri mewartakan kasih-Nya itu kepada manusia dengan cara menjadi manusia melalui perantaraan Santa Perawan Maria. Oleh karena itulah Yesus Kristus pun disebut juga sebagai Anak Allah yang maha tinggi oleh Malaikat Gabriel (Luk 1:32). Dengan mengandungnya Santa Perawan Maria tanpa persetubuhan dengan laki-laki, mesti kita pahami juga bahwa manusia itu adalah kata lain dari laki-laki, yaitu Adam dan garis keturunannya secara partriarki, maka terputuslah rantai keturunan Adam di dalam diri Yesus Kristus sehingga Ia tidak lagi memiliki dosa, yang berarti tidak dalam kuasa maut, seperti Adam.

Meskipun di jalur yang berbeda dengan Adam dan anak-anaknya, Yesus Kristus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia, Anak Adam. Bukan tanpa alasan Yesus Kristus menyatakan diri-Nya demikian karena Yesus Kristus dilahirkan oleh Santa Perawan Maria yang merupakan anak Adam juga tetapi dari garis keturunan Adam yang perempuan yaitu Hawa, yang kemudian dikenal sebagai istri Adam, ibu umat manusia. Nubuat ini telah dinyatakan dalam Taurat (Kej 3:15), jauh sebelum Kristus lahir.

Sebelum lupa, Yesus Kristus adalah Allah karena Ia adalah Anak Allah, sama seperti sebutan manusia kepada anak manusia atau domba pada anak domba (Yoh 5:18).

Semoga bisa menjawab mengapa Yesus Kristus yang Tuhan Allah itu bisa mati disalib